Selasa, 28 Mei 2013

perahu kertas

0 komentar
                Kugy, Eko, dan Noni adalah tiga orang sahabat yang selalu kompak. Kugy merupakan seorang gadis yang suka berkhayal. Dia bercita-cita untuk menjadi seorang penulis dongeng, sebuah cita-cita yang mungkin oleh sebagian orang pada masa sekarang sudah dianggap hal yang aneh dan tidak cukup menghasilkan uang. Kugy juga menganggap dirinya agen Neptunus, dan selalu menulis surat dan melipatnya menjadi sebuah perahu kertas yang kemudian berlayar untuk disampaikannya pesan tersebut ke Neptunus. Eko dan Noni adalah sepasang kekasih sekaligus sahabat dari Kugy. Eko merupakan teman Kugy semenjak SMP dan Noni adalah sahabat Kugy dari kecil. Kisah ini bermulai saat Kugy diterima untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung, satu kampus dengan Eko dan Noni. Eko memiliki sepupu bernama Keenan yang juga berkuliah ditempat yang sama. Pertemuan Kugy dan Keenan terjadi saat Eko, Noni dan Kugy menjemput Keenan di stasiun Bandung. Keenan merupakan seorang pelukis yang muda yang berbakat, namun ayahnya tidak menyetujui Keenan menjadi seorang pelukis. Pertemuan tersebut menjadi awal kisah cinta Kugy dan Keenan, kisah cinta yang begitu rumit untuk diungkapkan. Kugy, Keenan, Eko, dan Noni menjadi bersahabat dan salalu mengisi waktu bersama. Kugy dan Keenan menjadi begitu dekat, sering bertemu dan saling menyukai dan mengagumi satu sama lain. Keenan kagum dengan keinginan Kugy untuk menjadi penulis cerita dongeng. Begitu-pun dengan Kugy yang kagum dengan lukisan Keenan. Keenan dengan antusias membaca dongeng dari Kugy. Satu kelemahan Kugy dalam cita-citanya adalah, dia tidak bisa menggambarkan tokoh dari dongengnya. Hingga Keenan terinspirasi membuatkan gambar dari cerita dongeng Kugy. Keduanya saling kagum hingga timbul persaan cinta yang begitu dalam. Saat hubungan keduanya semakin dekat, konflik muncul diantara kisah mereka. Eko dan Noni berencana menjodohkan Keenan dengan sepupu Noni, Wanda. Wanda merupakan gadis cantik anak pemilik sebuah galeri terkenal di Jakarta. Hal itu membuat Kugy merasa hancur dan sakit hati, melihat Keenan dan Wanda yang setiap harinya semakin dekat. Kugy menutupi perasaannya dengan menjauh dari Keenan, Eko dan Noni. Membuat hubungan persahabatan mereka menjadi retak. Puncaknya, Kugy tidak hadir dalam acara ulang tahun Noni yang membuat keduanya saling berdiam diri ketika bertemu, dan tidak saling menyapa. Kugy memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya lebih cepat untuk melupakan segala kenangan dan persahabatnnya walaupun itu membuatnya sakit. Sedangkan Keenan yang putus asa atas sikap Wanda memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pergi ke Bali. Di Bali, Keenan tinggal bersama Pak Wayan, teman Ibunya yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Butuh waktu lama untuk Keenan kembali melukis. Dalam pikirannya hanya ada Kugy dan beserta kisah dongengnya yang selalu menjadi inspirasi baginya untuk melukis. Keenan akhirnya memberanikan diri untuk kembali melukis, karena adanya Luhde, keponakkan Bapak Wayan. Luhde begitu terinspirasi dengan Kugy membuat Keenan melabuhkan hatinya untuk Luhde. Disisi lain, Kugy yang sudah menyelesaikan kuliahnya menjalin hubungan dengan remi, bos dari Kugy. Remi juga merupakan pengagum lukisan Keenan, dan menjadi pembeli pertama lukisan Keenan. Kugy tidak mengetahui bahwa Remi mengenal Keenan. Keenan tidak mengetahui bahwa pacar sekaligus calon istri Remi adalah Kugy. Hingga pada suatu saat hati mereka saling memilih, dan Remi memutuskan untuk membatalkan lamaran pernikahannya dengan Kugy. Luhde pun memutuskan untuk merelakan dan meninggalkan Keenan. Secara tidak sengaja Keenan dan Kugy bertemu disuatu tempat dan menjadi akhir petualangan cinta agen Neptunus.               

Minggu, 26 Mei 2013

penderitaan seorang anak pemulung

0 komentar

Assalamualaikum wr.wb
                Selamat pagi, hari ini saya akan berbagi cerita dengan kalian. Di simak yaa !


                Di suatu tempat pemukiman yang amat sangat kumuh, tinggal lah seorang lelaki dan ayahnya. Lelaki itu bernama Doni. Ia sekarang berusia 11 tahun, dia tidak sekolah karena kondisi ekonominya tidak mendukung. Dia sangat rajin dan suka membantu ayah nya mencari nafkah untuk makan sehari-harinya, dan itu juga tidak setiap harinya mendapat uang karena tidak mesti mendapat barang-barang untuk di kilokan. Hari sudah gelap, doni pun menunggu kedatangan ayah. Beberapa menit kemudian, ayah datang dan menyuruh nya membantu ayah memindahkan karung-karung ke dalam rumah. Sementara itu, ayah menuju samping rumah utnuk mengambil air dan merebusnya, karena air minumnya habis. Dan mereka pun sudah terbiasa minum air keran. Setelah selesai merebus air dan mengangkut karung-karung ke dalam mereka masuk ke dalam dan berbincang-bincang tentang rencana ayah ingin menyekolahkan Doni.
                Waktu menunjukkan pukul 20.45 dan ayah menyuruhnya tidur, doni pun bergegas menuju kamar yang hanya beralaskan tikar dan lipatan-lipatan kardus.
                “kok belum tidur nak ?” ayah bertanya . “belum bias tidur yah.” Jawab Doni. “pejamkan matamu dulu nak, pasti nanti bias tidur!” perintah ayah. “sudah yah tetap saja tidak bias, ayah tidur dulu saja, ayah pasti capek seharian memungut.” Tanpa menjawab, ayah tertidur pulas.
Doni tidak bisa tidur karena dia memikirkan kemana ibunya pergi sedangkan sejak kecil dia belum pernah melihat ibunya. Dan dia bertanya-tanya dalam batin tentang ibundanya. Dia ingin sekali melihat ibu nya dan memeluknya erat-erat.
                Ayam berkokok membangunkannya. Dia pun segera mengambil air wudlu dan sholat. Setelah itu, seperti biasa, Doni membantu ayah mencari barang-barang bekas di jalanan. Matahari kini sudah berada di atas. Mereka terlihat sangat letih dari kemarin mereka belum mengiri perutnya dengan makanan. Adzan dhuhur sudah dikumandangkan. Mereka bersinggah sebentar di gubuk tua pinggir jalan dan sholat. Setelah itu, ayah membicarakan lagi tentang ayah ingin sekali menyekolahkan Doni. Tetapi, Doni tidak mau karena buat makan saja tidak bisa apalagi akan sekolah. Lalu ayah menjelaskan semuanya, dan yang akan membiayai sekolah nya adalah ibunya. Dan Doni semakin bertanya-tanya keberadaan ibu sekarang, tetapi ayah masih merahasiakan. Mereka melanjutkan perjalanannya.
                Hari pun sudah sore, mereka berhenti mencari barkas. Dan saat sampi di rumah, Doni menanyakan soal tadi siang. Ayah pun menjawab “ibu kamu baik-baik di sana, dia bekerja untuk menyekolahkan kamu, tetapi kamu jangan berharap kamu bisa tinggal bersamanya karena ibumu sudah berkeluarga.” Doni sejenak merenung.
                Pukul 08.00 , “apa ayah tidak bekerja hari ini?” Tanya Doni. “tidak nak, ayah capek.” “lalu kita mau makan pakai apa yah, uang kita sudah habis?” “ ayah masih punya sebungkus nasi di dapur nak, makan saja kalau sudah lapar!”
                “Hari ini ibumu akan datang mengirim uang buat kamu nak, buat sekolah kamu” dalam batin.
Seorang wanita berambut panjang mendatangi rumah Doni. Dan dia membukakan pintu untuk ibunya. Sebelumnya Doni tidak tahu kalau itu ibunya, dan setelah tau kalu ibu cantik itu ibunya, Doni memeluknya erat-erat dan memuji kecantikan wanita itu. Setelah ibu memberikan uang untuk doni, ia berpamitan pulang. Doni pun harus merelakan kepergian ibunda nya lagi dan meneteskan air kerinduan seorang anak kepada ibunya yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Tetapi doni sangat senang sudah bisa melihat ibunda nya dan sekarang ia bersekolah, bermain bersama teman-temannya.

                Di suatu tempat pemukiman yang amat sangat kumuh, tinggal lah seorang lelaki dan ayahnya. Lelaki itu bernama Doni. Ia sekarang berusia 11 tahun, dia tidak sekolah karena kondisi ekonominya tidak mendukung. Dia sangat rajin dan suka membantu ayah nya mencari nafkah untuk makan sehari-harinya, dan itu juga tidak setiap harinya mendapat uang karena tidak mesti mendapat barang-barang untuk di kilokan. Hari sudah gelap, doni pun menunggu kedatangan ayah. Beberapa menit kemudian, ayah datang dan menyuruh nya membantu ayah memindahkan karung-karung ke dalam rumah. Sementara itu, ayah menuju samping rumah utnuk mengambil air dan merebusnya, karena air minumnya habis. Dan mereka pun sudah terbiasa minum air keran. Setelah selesai merebus air dan mengangkut karung-karung ke dalam mereka masuk ke dalam dan berbincang-bincang tentang rencana ayah ingin menyekolahkan Doni.
                Waktu menunjukkan pukul 20.45 dan ayah menyuruhnya tidur, doni pun bergegas menuju kamar yang hanya beralaskan tikar dan lipatan-lipatan kardus.
                “kok belum tidur nak ?” ayah bertanya . “belum bias tidur yah.” Jawab Doni. “pejamkan matamu dulu nak, pasti nanti bias tidur!” perintah ayah. “sudah yah tetap saja tidak bias, ayah tidur dulu saja, ayah pasti capek seharian memungut.” Tanpa menjawab, ayah tertidur pulas.
Doni tidak bisa tidur karena dia memikirkan kemana ibunya pergi sedangkan sejak kecil dia belum pernah melihat ibunya. Dan dia bertanya-tanya dalam batin tentang ibundanya. Dia ingin sekali melihat ibu nya dan memeluknya erat-erat.
                Ayam berkokok membangunkannya. Dia pun segera mengambil air wudlu dan sholat. Setelah itu, seperti biasa, Doni membantu ayah mencari barang-barang bekas di jalanan. Matahari kini sudah berada di atas. Mereka terlihat sangat letih dari kemarin mereka belum mengiri perutnya dengan makanan. Adzan dhuhur sudah dikumandangkan. Mereka bersinggah sebentar di gubuk tua pinggir jalan dan sholat. Setelah itu, ayah membicarakan lagi tentang ayah ingin sekali menyekolahkan Doni. Tetapi, Doni tidak mau karena buat makan saja tidak bisa apalagi akan sekolah. Lalu ayah menjelaskan semuanya, dan yang akan membiayai sekolah nya adalah ibunya. Dan Doni semakin bertanya-tanya keberadaan ibu sekarang, tetapi ayah masih merahasiakan. Mereka melanjutkan perjalanannya.
                Hari pun sudah sore, mereka berhenti mencari barkas. Dan saat sampi di rumah, Doni menanyakan soal tadi siang. Ayah pun menjawab “ibu kamu baik-baik di sana, dia bekerja untuk menyekolahkan kamu, tetapi kamu jangan berharap kamu bisa tinggal bersamanya karena ibumu sudah berkeluarga.” Doni sejenak merenung.
                Pukul 08.00 , “apa ayah tidak bekerja hari ini?” Tanya Doni. “tidak nak, ayah capek.” “lalu kita mau makan pakai apa yah, uang kita sudah habis?” “ ayah masih punya sebungkus nasi di dapur nak, makan saja kalau sudah lapar!”
                “Hari ini ibumu akan datang mengirim uang buat kamu nak, buat sekolah kamu” ucap ayah dalam batin.
Seorang wanita berambut panjang mendatangi rumah Doni, dan dia membukakan pintu untuk ibunya. Sebelumnya Doni tidak tahu kalau itu ibunya, dan setelah tau kalu ibu cantik itu ibunya, Doni memeluknya erat-erat dan memuji kecantikan wanita itu. Setelah ibu memberikan uang untuk doni, ia berpamitan pulang. Doni pun harus merelakan kepergian ibunda nya lagi dan meneteskan air kerinduan seorang anak kepada ibunya yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Tetapi doni sangat senang sudah bisa melihat ibunda nya dan sekarang ia bersekolah, bermain bersama teman-temannya.

Selasa, 28 Mei 2013

perahu kertas

                Kugy, Eko, dan Noni adalah tiga orang sahabat yang selalu kompak. Kugy merupakan seorang gadis yang suka berkhayal. Dia bercita-cita untuk menjadi seorang penulis dongeng, sebuah cita-cita yang mungkin oleh sebagian orang pada masa sekarang sudah dianggap hal yang aneh dan tidak cukup menghasilkan uang. Kugy juga menganggap dirinya agen Neptunus, dan selalu menulis surat dan melipatnya menjadi sebuah perahu kertas yang kemudian berlayar untuk disampaikannya pesan tersebut ke Neptunus. Eko dan Noni adalah sepasang kekasih sekaligus sahabat dari Kugy. Eko merupakan teman Kugy semenjak SMP dan Noni adalah sahabat Kugy dari kecil. Kisah ini bermulai saat Kugy diterima untuk berkuliah di salah satu perguruan tinggi di Bandung, satu kampus dengan Eko dan Noni. Eko memiliki sepupu bernama Keenan yang juga berkuliah ditempat yang sama. Pertemuan Kugy dan Keenan terjadi saat Eko, Noni dan Kugy menjemput Keenan di stasiun Bandung. Keenan merupakan seorang pelukis yang muda yang berbakat, namun ayahnya tidak menyetujui Keenan menjadi seorang pelukis. Pertemuan tersebut menjadi awal kisah cinta Kugy dan Keenan, kisah cinta yang begitu rumit untuk diungkapkan. Kugy, Keenan, Eko, dan Noni menjadi bersahabat dan salalu mengisi waktu bersama. Kugy dan Keenan menjadi begitu dekat, sering bertemu dan saling menyukai dan mengagumi satu sama lain. Keenan kagum dengan keinginan Kugy untuk menjadi penulis cerita dongeng. Begitu-pun dengan Kugy yang kagum dengan lukisan Keenan. Keenan dengan antusias membaca dongeng dari Kugy. Satu kelemahan Kugy dalam cita-citanya adalah, dia tidak bisa menggambarkan tokoh dari dongengnya. Hingga Keenan terinspirasi membuatkan gambar dari cerita dongeng Kugy. Keduanya saling kagum hingga timbul persaan cinta yang begitu dalam. Saat hubungan keduanya semakin dekat, konflik muncul diantara kisah mereka. Eko dan Noni berencana menjodohkan Keenan dengan sepupu Noni, Wanda. Wanda merupakan gadis cantik anak pemilik sebuah galeri terkenal di Jakarta. Hal itu membuat Kugy merasa hancur dan sakit hati, melihat Keenan dan Wanda yang setiap harinya semakin dekat. Kugy menutupi perasaannya dengan menjauh dari Keenan, Eko dan Noni. Membuat hubungan persahabatan mereka menjadi retak. Puncaknya, Kugy tidak hadir dalam acara ulang tahun Noni yang membuat keduanya saling berdiam diri ketika bertemu, dan tidak saling menyapa. Kugy memutuskan untuk menyelesaikan kuliahnya lebih cepat untuk melupakan segala kenangan dan persahabatnnya walaupun itu membuatnya sakit. Sedangkan Keenan yang putus asa atas sikap Wanda memutuskan untuk meninggalkan Bandung dan pergi ke Bali. Di Bali, Keenan tinggal bersama Pak Wayan, teman Ibunya yang sudah dianggap seperti keluarganya sendiri. Butuh waktu lama untuk Keenan kembali melukis. Dalam pikirannya hanya ada Kugy dan beserta kisah dongengnya yang selalu menjadi inspirasi baginya untuk melukis. Keenan akhirnya memberanikan diri untuk kembali melukis, karena adanya Luhde, keponakkan Bapak Wayan. Luhde begitu terinspirasi dengan Kugy membuat Keenan melabuhkan hatinya untuk Luhde. Disisi lain, Kugy yang sudah menyelesaikan kuliahnya menjalin hubungan dengan remi, bos dari Kugy. Remi juga merupakan pengagum lukisan Keenan, dan menjadi pembeli pertama lukisan Keenan. Kugy tidak mengetahui bahwa Remi mengenal Keenan. Keenan tidak mengetahui bahwa pacar sekaligus calon istri Remi adalah Kugy. Hingga pada suatu saat hati mereka saling memilih, dan Remi memutuskan untuk membatalkan lamaran pernikahannya dengan Kugy. Luhde pun memutuskan untuk merelakan dan meninggalkan Keenan. Secara tidak sengaja Keenan dan Kugy bertemu disuatu tempat dan menjadi akhir petualangan cinta agen Neptunus.               

Minggu, 26 Mei 2013

penderitaan seorang anak pemulung


Assalamualaikum wr.wb
                Selamat pagi, hari ini saya akan berbagi cerita dengan kalian. Di simak yaa !


                Di suatu tempat pemukiman yang amat sangat kumuh, tinggal lah seorang lelaki dan ayahnya. Lelaki itu bernama Doni. Ia sekarang berusia 11 tahun, dia tidak sekolah karena kondisi ekonominya tidak mendukung. Dia sangat rajin dan suka membantu ayah nya mencari nafkah untuk makan sehari-harinya, dan itu juga tidak setiap harinya mendapat uang karena tidak mesti mendapat barang-barang untuk di kilokan. Hari sudah gelap, doni pun menunggu kedatangan ayah. Beberapa menit kemudian, ayah datang dan menyuruh nya membantu ayah memindahkan karung-karung ke dalam rumah. Sementara itu, ayah menuju samping rumah utnuk mengambil air dan merebusnya, karena air minumnya habis. Dan mereka pun sudah terbiasa minum air keran. Setelah selesai merebus air dan mengangkut karung-karung ke dalam mereka masuk ke dalam dan berbincang-bincang tentang rencana ayah ingin menyekolahkan Doni.
                Waktu menunjukkan pukul 20.45 dan ayah menyuruhnya tidur, doni pun bergegas menuju kamar yang hanya beralaskan tikar dan lipatan-lipatan kardus.
                “kok belum tidur nak ?” ayah bertanya . “belum bias tidur yah.” Jawab Doni. “pejamkan matamu dulu nak, pasti nanti bias tidur!” perintah ayah. “sudah yah tetap saja tidak bias, ayah tidur dulu saja, ayah pasti capek seharian memungut.” Tanpa menjawab, ayah tertidur pulas.
Doni tidak bisa tidur karena dia memikirkan kemana ibunya pergi sedangkan sejak kecil dia belum pernah melihat ibunya. Dan dia bertanya-tanya dalam batin tentang ibundanya. Dia ingin sekali melihat ibu nya dan memeluknya erat-erat.
                Ayam berkokok membangunkannya. Dia pun segera mengambil air wudlu dan sholat. Setelah itu, seperti biasa, Doni membantu ayah mencari barang-barang bekas di jalanan. Matahari kini sudah berada di atas. Mereka terlihat sangat letih dari kemarin mereka belum mengiri perutnya dengan makanan. Adzan dhuhur sudah dikumandangkan. Mereka bersinggah sebentar di gubuk tua pinggir jalan dan sholat. Setelah itu, ayah membicarakan lagi tentang ayah ingin sekali menyekolahkan Doni. Tetapi, Doni tidak mau karena buat makan saja tidak bisa apalagi akan sekolah. Lalu ayah menjelaskan semuanya, dan yang akan membiayai sekolah nya adalah ibunya. Dan Doni semakin bertanya-tanya keberadaan ibu sekarang, tetapi ayah masih merahasiakan. Mereka melanjutkan perjalanannya.
                Hari pun sudah sore, mereka berhenti mencari barkas. Dan saat sampi di rumah, Doni menanyakan soal tadi siang. Ayah pun menjawab “ibu kamu baik-baik di sana, dia bekerja untuk menyekolahkan kamu, tetapi kamu jangan berharap kamu bisa tinggal bersamanya karena ibumu sudah berkeluarga.” Doni sejenak merenung.
                Pukul 08.00 , “apa ayah tidak bekerja hari ini?” Tanya Doni. “tidak nak, ayah capek.” “lalu kita mau makan pakai apa yah, uang kita sudah habis?” “ ayah masih punya sebungkus nasi di dapur nak, makan saja kalau sudah lapar!”
                “Hari ini ibumu akan datang mengirim uang buat kamu nak, buat sekolah kamu” dalam batin.
Seorang wanita berambut panjang mendatangi rumah Doni. Dan dia membukakan pintu untuk ibunya. Sebelumnya Doni tidak tahu kalau itu ibunya, dan setelah tau kalu ibu cantik itu ibunya, Doni memeluknya erat-erat dan memuji kecantikan wanita itu. Setelah ibu memberikan uang untuk doni, ia berpamitan pulang. Doni pun harus merelakan kepergian ibunda nya lagi dan meneteskan air kerinduan seorang anak kepada ibunya yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Tetapi doni sangat senang sudah bisa melihat ibunda nya dan sekarang ia bersekolah, bermain bersama teman-temannya.

                Di suatu tempat pemukiman yang amat sangat kumuh, tinggal lah seorang lelaki dan ayahnya. Lelaki itu bernama Doni. Ia sekarang berusia 11 tahun, dia tidak sekolah karena kondisi ekonominya tidak mendukung. Dia sangat rajin dan suka membantu ayah nya mencari nafkah untuk makan sehari-harinya, dan itu juga tidak setiap harinya mendapat uang karena tidak mesti mendapat barang-barang untuk di kilokan. Hari sudah gelap, doni pun menunggu kedatangan ayah. Beberapa menit kemudian, ayah datang dan menyuruh nya membantu ayah memindahkan karung-karung ke dalam rumah. Sementara itu, ayah menuju samping rumah utnuk mengambil air dan merebusnya, karena air minumnya habis. Dan mereka pun sudah terbiasa minum air keran. Setelah selesai merebus air dan mengangkut karung-karung ke dalam mereka masuk ke dalam dan berbincang-bincang tentang rencana ayah ingin menyekolahkan Doni.
                Waktu menunjukkan pukul 20.45 dan ayah menyuruhnya tidur, doni pun bergegas menuju kamar yang hanya beralaskan tikar dan lipatan-lipatan kardus.
                “kok belum tidur nak ?” ayah bertanya . “belum bias tidur yah.” Jawab Doni. “pejamkan matamu dulu nak, pasti nanti bias tidur!” perintah ayah. “sudah yah tetap saja tidak bias, ayah tidur dulu saja, ayah pasti capek seharian memungut.” Tanpa menjawab, ayah tertidur pulas.
Doni tidak bisa tidur karena dia memikirkan kemana ibunya pergi sedangkan sejak kecil dia belum pernah melihat ibunya. Dan dia bertanya-tanya dalam batin tentang ibundanya. Dia ingin sekali melihat ibu nya dan memeluknya erat-erat.
                Ayam berkokok membangunkannya. Dia pun segera mengambil air wudlu dan sholat. Setelah itu, seperti biasa, Doni membantu ayah mencari barang-barang bekas di jalanan. Matahari kini sudah berada di atas. Mereka terlihat sangat letih dari kemarin mereka belum mengiri perutnya dengan makanan. Adzan dhuhur sudah dikumandangkan. Mereka bersinggah sebentar di gubuk tua pinggir jalan dan sholat. Setelah itu, ayah membicarakan lagi tentang ayah ingin sekali menyekolahkan Doni. Tetapi, Doni tidak mau karena buat makan saja tidak bisa apalagi akan sekolah. Lalu ayah menjelaskan semuanya, dan yang akan membiayai sekolah nya adalah ibunya. Dan Doni semakin bertanya-tanya keberadaan ibu sekarang, tetapi ayah masih merahasiakan. Mereka melanjutkan perjalanannya.
                Hari pun sudah sore, mereka berhenti mencari barkas. Dan saat sampi di rumah, Doni menanyakan soal tadi siang. Ayah pun menjawab “ibu kamu baik-baik di sana, dia bekerja untuk menyekolahkan kamu, tetapi kamu jangan berharap kamu bisa tinggal bersamanya karena ibumu sudah berkeluarga.” Doni sejenak merenung.
                Pukul 08.00 , “apa ayah tidak bekerja hari ini?” Tanya Doni. “tidak nak, ayah capek.” “lalu kita mau makan pakai apa yah, uang kita sudah habis?” “ ayah masih punya sebungkus nasi di dapur nak, makan saja kalau sudah lapar!”
                “Hari ini ibumu akan datang mengirim uang buat kamu nak, buat sekolah kamu” ucap ayah dalam batin.
Seorang wanita berambut panjang mendatangi rumah Doni, dan dia membukakan pintu untuk ibunya. Sebelumnya Doni tidak tahu kalau itu ibunya, dan setelah tau kalu ibu cantik itu ibunya, Doni memeluknya erat-erat dan memuji kecantikan wanita itu. Setelah ibu memberikan uang untuk doni, ia berpamitan pulang. Doni pun harus merelakan kepergian ibunda nya lagi dan meneteskan air kerinduan seorang anak kepada ibunya yang sudah bertahun-tahun tidak jumpa. Tetapi doni sangat senang sudah bisa melihat ibunda nya dan sekarang ia bersekolah, bermain bersama teman-temannya.

Followers

 

welcome to my blog Copyright 2008 Fashionholic Designed by Ipiet Templates Supported by Tadpole's Notez